Keep Fighting!

From Nothing to be Amazing..

Kenapa Softdrink Berbahaya bagi Tubuh?

1. Softdrink menguras air dalam tubuh. Seperti halnya diuretik yang bukannya memberikan air untuk tubuh kita, tapi malah menghabiskannya. Pemrosesan gula tingkat tinggi dalam softdrinks memerlukan sejumlah besar air dalam tubuh kita. Untuk mengganti air ini, orang harus minum 8-12 gelas air untuk setiap gelas yang diminum.

2. Softdrink tidak pernah meng-hilangkan rasa haus karena Softdrink bukanlah air yang diperlukan oleh tubuh. Dengan tetap tidak memasok air ke dalam tubuh kita terus – menerus akan menyebabkan dehidrasi seluler kronis, sebuah kondisi yang melemahkan tubuh pada tingkat serius. Pada gilirannya akan menyebabkan melemahnya sistem kekebalan dan menimbulkan berbagai penyakit.

3. Tingkat kandungan fosfat yang tinggi dalam softdrinks dapat menghancurkan mineral penting dalam tubuh. Softdrink terbuat dari air murni yang juga dapat menghancurkan mineral penting dalam tubuh. Kekurangan mineral yang serius dapat menyebabkan penyakit jantung ( kekurangan magnesium), osteoporosis ( kekurangan kalsium ) dan banyak lagi. Sebagian besar vitamin tidak berfungsi di dalam tubuh tanpa adanya mineral.

4. Softdrink dapat membersihkan karat pada bumper mobil atau benda benda logam lainnya. Bayangkan apa yang akan terjadi pada fungsi pencernaan dan organ tubuh lainnya.

softdrink_ok
5. Jumlah gula yang tinggi dalam softdrinks menyebabkan pankreas memproduksi insulin dalam jumlah besar, yang mengakibatkan “benturan gula”, Kelebihan dan kekurangan gula dalam insulin dapat menyebabkan diabetes dan penyakit yang terkait dengan ketidakseimbangan dalam tubuh. Keadaan ini dapat mengganggu pertumbuhan anak sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan seumur hidup.

6. Softdrinks sangat mempengaruhi pencernaan. Kafein dan jumlah gula yang tinggi dapat menghentikan proses pencernaan. Ini artinya metabolisme dalam tubuh bisa terhambat. Softdrink bila diminum bersamaan dengan kentang goreng akan membutuhkan waktu berminggu minggu untuk di cernakan.

7. Softdrink mengandung aspartame, yang di hubungkan dengan depresi, insomnia, penyakit saraf dan banyak penyakit lainnya. Di Amerika, FDA telah menerima lebih dad 10400 keluhan konsumen terhadap aspartame.

8. Softdrink: bersifat sangat asam, sehingga dapat menembus garis sambung pada kaleng alumunium dan dapat melumerkan kaleng tersebut bila disimpan terlalu lama. Pasien penderita alzheimer yang telah diotopsi semuanya memiliki kadar aluminium yang sangat tinggi dalam otaknya. Logam berat dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan syaraf dan penyakit lainnya.

9. Softdrink bersifat sangat asam, tubuh manusia secara alamiah memiliki pH 7,0. Softdrink memiliki pH 2,5, artinya anda memasukkan sesuatu yang ratusan ribu kali lebih asam ke dalam tubuh anda. Penyakit berkembang dalam lingkungan asam. Softdrink akan mengendapkan limbah asam dalam tubuh yang menumpuk dalam sendi dan di sekitar organ tubuh. Contohnya, pH tubuh penderita kanker atau randang sendi selalu rendah. Semakin parah penyakit seseorang, semakin rendah pH tubuhnya.

10. Jangan pernah berpikir untuk meneguk Softdrink saat anda terkena demam atau flu, Softdrink akan mempersulit tubuh melawan penyakit tersebut.

www.americanhealthy.com

September 17, 2009 Ditulis oleh r4ka | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

Shopaholic, are you?

Yes, I am..

Suka beli-beli barang yang gk perlu.  Kalo belanja suka lapar mata.  Huff…bener-bener parah.  Gk bisa pegang uang banyak.  Sebenarnya aku gk terlalu suka belanja baju-baju atau segala macam yang termasuk kategori “sandang”.  Karena aku juga gk terlalu tertarik dengan yang namanya fashion atau mode.  Tapi aku suka dengan barang yang unik.  Gak bisa gk beli kalo aku udh nemu sama barang yang aneh dan aku suka. Biarpun saat itu nahan untuk gk beli, tetep aja keingat-ingat trus dan akhirnya memaksa aku untuk kembali ke toko itu dan finally:   Buy it!

Oh my God! I realize that is bad habit.  But….yang namanya “holic” gimana coba..???????

Bagi siapa yang menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit shopaholic aku ini, kalo dia perempuan niscaya akan aku jadikan sister, dan kalo dia lelaki niscaya akan aku jadikan brother.. Halah.. hahaha….

Makanya aku males untuk bawa uang banyak-banyak di dompet. Karena gini ya perumpamaannya, dari rumah aku bawa uang 100.000. Bisa jadi pas pulang uang aku tinggal 1000. Biarpun nol nya cuma berkurang dua, tapi kan fatal banget akibatnya. Gimana kalo di jalan ban aku bocor, gimana aku mau bayar..??

Dan itu pernah terjadi, belanja sampe dompet aku bener-bener tak berisi, sampai untuk membayar uang parkir aja gk mampu. Oh..it’s so terrible experience..  Untung ja tukang parkirnya baekkkk….banget. jadi pas aku bilang, “Bang, maaf uang saya dah abis”, sambil senyum and gk lupa pasang wajah innocent. Eh, tuh tukang parkir balas senyum. Hehehe… Hufff…….lega. Gk lagi deh, jangan sampe keulang lagi kejadian kayak gitu. Tobat aku.

shopaholic

Sejak itu aku merasa kapok dan kualat buat belanja tanpa perhitungan..

Tapi ya…yang namanya penyakit bawaan, kadang-kadang masih sering kumat.  Makanya aku emang perlu obat yang ampuh untuk sembuh total dari “holic” ini..

So, are you shopaholic, guys?

April 6, 2009 Ditulis oleh r4ka | Uncategorized | | & Komentar

Jangan Sakit Jika Anda Miskin

Ponari sekarang udah jadi selebritis papan atas di negeri ini. Stasiun tv mana yang tidak pernah memberitakan Ponari secara eksklusif? Tidak ada yang mau ketinggalan. Ternyata yang ikut berdesak-desakan di halaman rumah Ponari bukan hanya pasien saja. Tapi para kuli tinta juga tidak ingin ketinggalan.
Seandainya anda dihadapkan pada pilihan untuk berobat, anda akan memilih dokter yang menyembuhkan secara medis atau ponari yang konon bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan batu ajaibnya?
Jawabannya pasti beragam. Bagi anda yang berduit pastinya akan lebih memilih berobat ke dokter yang mengobati secara lebih logis daripada harus berdesak-desakan mengantri di depan rumah Ponari. Namun bagi kaum miskin, mereka cenderung memilih berobat ke dukun kecil itu. Realitas menyedihkan yang terjadi dalam masyarakat kita. Itulah fenomena yang terjadi di balik cerita Ponari. Cermin keputusaan rakyat untuk mendapat perawatan dokter ternyata disambut dengan harapan akan batu ajaib milik Ponari.
Masyarakat kita sekarang ini tidak mampu berobat ke rumah sakit karena dirasakan biayanya sangat mahal. Pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah pun belum menjangkau keseluruhan masyarakat, sehingga kemunculan Ponari ini bagaikan angin segar bagi masyakat kelas bawah yang putus asa.

lo-sick_teddy_bear_3-324950

Saya ingin mengkritisi buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk wilayah ASEAN saja, Indonesia menempati urutan teratas. Saya heran kenapa untuk hal-hal buruk, kita seringkali tampil sebagai sang jawara. Ada apa dengan bangsa ini?
Mungkin kita akan dengan bangga mengatakan bahwa dulu Indonesia adalah negara yang lebih maju dibanding Malaysia. Itu dulu. Sekarang malah kita jauh tertinggal dari negara serumpun itu, hampir dalam segala bidang. Terutama dalam bidang kesehatan. Fakta bahwa lebih banyak orang Indonesia yang lebih memilih berobat ke Malaysia, karena mereka masih paranoid dengan dokter-dokter di negerinya sendiri. Kita telah sering dikecewakan oleh dokter hasil dalam negeri. Adanya diagnosa yang salah, malpraktek, dan ”tambahan” obat-obatan yang tidak perlu, adalah kasus yang lazim kita temui. Di benak masyarakat kita, dokter di Indonesia telah mempunyai stereotip ”teledor”.
Masalah kesehatan itu kan gak main-main. Orang berobat ke dokter itu pastinya dengan suatu harapan bisa sembuh, bukan makin dibuat lebih parah kan?
Dari sekian banyak dokter spesialis di Indonesia, saya sangat yakin bahwa hanya segelintir persen yang benar-benar bisa diandalkan. Bobroknya moral dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai sejak awal proses bagaimana seseorang itu bisa masuk di fakultas kedokteran. Biaya kuliahnya aja udah selangit. Konon lagi mereka-mereka yang mengambil jalur ekstensi. Biayanya pasti lebih tinggi. Parahnya lagi bagi mereka yang berduit dan kuliah di kedokteran hanya untuk menjaga gengsi. Motivasi mahasiswanya juga berbeda-beda kan. Bayangin aja jika salah satu bidang paling vital di negeri ini, yaitu bidang kesehatan ditangani oleh lulusan fakultas kedokteran yang bermotivasi untuk mendapat ”duit”.
Pantas saja begitu mahalnya harga kesehatan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka (saya tidak mengatakan semua), membuka praktek dan menetapkan tarif mahal kepada pasiennya agar bisa ”balik modal”. Tanpa peduli apakah pasien itu kaya atau miskin. Ini bukan hanya pendapat saya, tapi ini adalah pendapat publik. Pasien hanya dijadikan komoditas untuk memperkaya dokter.
Oke lah jika sekarang pemerintah mengadakan askeskin dan berobat murah bagi rakyat kurang mampu. Lantas apakah masalahnya selesai? Tidak.
Seringkali kasus yang terjadi di lapangan, adanya sikap diskriminatif terhadap pengguna askeskin. Berharap mendapatkan pelayanan kesehatan, mereka dijadikan pasien kelas dua.
Contoh kasus nih ya, ada pasien kurang mampu yang udah sekarat berobat ke rumah sakit. Apakah ketika pasien itu tiba langsung pelayanan yang didapat? Tidak.
Jika pasien itu kurang mampu, maka harus ada surat keterangan tidak mampu dulu, sayangnya belum semua masyarakat miskin mendapat hak askeskin. Untuk membuat askeskin itu pun tidak gampang. Tau sendirilah bagaimana ribetnya birokrasi di Indonesia. Harus ada syarat ini itulah. Rakyat miskin dibuat makin susah.
Pihak rumah sakit lebih mengutamakan pasien yang ”membayar” daripada pasien yang hanya bermodal askeskin. Biarpun keadaan darurat, tetap saja mereka harus rela berada di ”daftar tunggu” setelah pasien yang membayar.

Jika anda miskin, jagalah kesehatan anda sebaik mungkin
atau
Rakyat Miskin Dilarang Sakit

Sepertinya tanda peringatan seperti itu bisa menjadi cara alternatif bagi rumah sakit-rumah sakit sombong yang kurang bersahabat bagi rakyat miskin. Inilah ironi yang terjadi pada masyarakat kita. Anda kaya? Silahkan sewa dokter terhebat dan dapatkan perawatan terbaik kelas dunia. Tapi jika anda miskin, silahkan tidur kembali diatas kasur reot anda dan bermimpi bahwa akan ada dokter spesialis baik hati yang akan mengobati anda secara gratis.

Maret 2, 2009 Ditulis oleh r4ka | Uncategorized | | & Komentar

Demokrasi = Diktator Mayoritas ?

Dari jaman kita SD sampe udah bangkotan kayak gini, pasti kita udah hapal dengan doktrin bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang system pemerintahannya berdasarkan demokrasi. Di mana-mana kita akan mendengar kata-kata demokrasi yang diagung-agungkan ke seluruh penjuru negeri. Yaa…biarpun jenis demokrasinya beda-beda. Beda periode pemerintahan, beda pula embel-embel demokrasinya. Tapi kan tetap aja demokrasi yang jadi induknya. Bahkan, dalam beberapa opini internasional disebutkan bahwa, Indonesia layak untuk dijadikan kiblat demokrasi di wilayah Asia. Banggakah kita? Demokrasi di Indonesia tidak ubahnya hanya sebagai barang dagangan dalam sebuah etalase Negara. Negara lain menilai bahwa demokrasi di Indonesia adalah system demokrasi paling berhasil jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia. Kesuksesan kita menyelenggarakan pemilu adalah tolok ukur mereka. Mereka memandang keberhasilan ini hanya dari etalasenya saja. Tapi toh apa yang sesungguhnya terjadi dalam internal bangsa ini kan Cuma kita sendiri yang tahu.
Ok, pembahasan ini saya pandang posisi kita dalam demokrasi ini sebagai warga negara. Sejatinya pengertian demokrasi yang kita tau selama ini adalah suatu sistem pemerintahan dengan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Ini berarti bahwa negara ini, mau tidak mau, suka tidak suka, harus berjalan sesuai dengan keinginan rakyat. Analogikan bahwa negara ini adalah sebuah mobil, rakyat bertindak sebagai sang pemilik mobil, sementara presiden dan antek-anteknya hanya bertindak sebagai supir. Jadi kita ini sebenarnya sedang menumpang di sebuah kendaraan yang bernama demokrasi dengan kemakmuran sebagai tujuannya. Apakah kita sedang menuju ke sana? Yakinkah kita bahwa ini adalah kendaraan yang benar?democracy1_0

Demokrasi di Indonesia tidak pernah bisa terlepas dari kata musyawarah dan mufakat. Dan sekali lagi, doktrin musyawarah yang selama ini kita pahami adalah : musyawarah berarti mengambil suatu keputusan atas suatu kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama. Yap, saya ulangi, kesepakatan bersama. Indikasinya adalah suara terbanyak, itulah keputusan yang diambil. Asalkan sudah menjadi kesepakatan bersama, menjadi legal lah hal tersebut. Maka yang menjadi kaum minoritas, mau tidak mau harus tunduk kepada suara mayoritas. Itulah sebabnya mengapa demokrasi itu sama saja dengan diktator mayoritas. Satu lagi kekurangan sistem ini, suara terbanyak bukan berarti adalah yang paling benar kan…
Memang konsep awal demokrasi yang diimpikan oleh pendiri negara ini adalah demokrasi yang bisa membawa rakyatnya hidup sejahtera. Tapi sampai kapan rakyat harus menunggu? Guys, 63 tahun udah kita merdeka. Tapi kok kita gk pernah jauh ya dari kata kemiskinan? Apa itu bukan berarti bahwa asas demokrasi yang telah ditetapkan selama setengah abad lebih itu adalah produk gagal? Lalu kenapa tidak ada inisiatif untuk mengevaluasi asas itu?
Apa mungkin karena para pemimpinnya takut? Takut jika sistem ini diganti, mereka tidak bisa lagi membodoh-bodohi rakyat.
Pendidikan demokrasi yang tumbuh di negara ini telah mendidik kita menjadi masyrakat yang kolot. Bertindak bebas dengan dalih demokrasi. Hal itu tercermin jelas dalam bidang politik, seni, dan budaya. Rakyat dijejali dengan bacaan-bacaan dan tontonan yang tidak berkualitas, tentunya dengan kedok demokrasi.
Another bad effect dari sistem ini adalah pemilihan umum yang membebaskan lahirnya berbagai macam partai politik. Banyak orang yang berdalih bahwa, partai politik adalah suatu wadah yang bisa menampung aspirasi rakyat. Saya kira kalimat itu tidak cukup sampai di situ. Tentunya aspirasi rakyat dari kalangan agama, ras, profesi, dan tujuan berbeda. Mereka punya latar belakang yang berbeda-beda bukan? Lalu di mana eksistensi sila ke-3 Pancasila, ”Kesatuan Indonesia”. Bukankah banyak partai dengan ideologi dan tujuan yang berbeda-beda telah menyebabkan bangsa ini terpecah belah? Masing-masing partai akan berusaha untuk mendahulukan kepentingan golongannya. Sikut sana sikut sini, mencari simpati dan mengumbar janji adalah pemandangan khas menjelang pemilu. Saling mengklaim bahwa partainya adalah yang paling berpihak pada rakyat. Jujur, saya sebagai rakyat jelata dibuat bingung oleh situasi ini. Rakyat seperti dibodoh-bodohi oleh elite politik. Kalo kata peribahasanya Indonesia nih, ”habis manis sepah dibuang”. Yaiyalah, giliran pemilu aja mulai deh segala lapisan masyarakat dijabanin. Ntar pas menang, hanguslah segala janji. Menjelek-jelekkan partai saingan juga bukan merupakan hal tabu. Sudah jadi rahasia umumlah. Benar-benar tidak mengerti saya. Tapi inilah yang ada di negara demokrasi.
Tiap partai tentunya memiliki stereotip yang berbeda dalam pandangan masyarakat. Misalnya nih, PKS dengan reputasi ”bersihnya” mereka di pemerintahan dengan tema-tema populer seperti anti-korupsi, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat
dan mobilisasi kampanye yang tidak terlalu berlebihan. PDIP yang masih berusaha mempertahankan kepopulerannya di kalangan wong cilik dengan program sembako murahnya, Partai Demokrat yang bangga dengan keberhasilannya memberantas korupsi, PKB juga masih setia dengan kalangan ulama NU nya, PAN dengan background Muhammadiyahnya; Partai Gerindra dengan stereotip memperjuangkan hak para buruh dan petani, dan masih banyak partai-partai lainnya yang saya yakin pasti punya tujuan mulia untuk membuat bangsa ini makmur. Kenapa mesti terpecah-belah dengan adanya multi partai? Kenapa kita tidak bersatu saja bekerja sama dengan menggabungkan ide-ide yang ada? Seegois itukah bangsa kita?

Januari 27, 2009 Ditulis oleh r4ka | opini | , | 1 Komentar