Love is like a sand in the hand.

The more you keep it, the more you lose it..

Advertisements

Shopaholic, are you?

Yes, I am..

Suka beli-beli barang yang gk perlu.  Kalo belanja suka lapar mata.  Huff…bener-bener parah.  Gak bisa pegang uang banyak.  Sebenarnya aku gak terlalu suka belanja baju-baju atau segala macam yang termasuk kategori “sandang”.  Karena aku juga gk terlalu tertarik dengan yang namanya fashion atau mode.  Tapi aku suka dengan barang yang unik.  Gak bisa gak beli kalo aku udah nemu sama barang yang aneh dan aku suka. Biarpun saat itu nahan untuk gak beli, tetep aja keingat-ingat terus dan akhirnya memaksa aku untuk kembali ke toko itu dan finally:   Buy it!

Oh my God! I realize that is bad habit.  But….yang namanya “holic” gimana coba..

Bagi siapa yang menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit shopaholic aku ini, kalo dia perempuan niscaya akan aku jadikan sister, dan kalo dia lelaki niscaya akan aku jadikan brother.. Halah.. hahaha….

Makanya aku males untuk bawa uang banyak-banyak di dompet. Karena gini ya perumpamaannya, dari rumah aku bawa uang 100.000. Bisa jadi pas pulang uang aku tinggal 1000. Biarpun nol nya cuma berkurang dua, tapi kan fatal banget akibatnya. Gimana kalo di jalan ban aku bocor, gimana aku mau bayar..

Dan itu pernah terjadi, belanja sampe dompet aku bener-bener tak berisi, sampai untuk membayar uang parkir aja gk mampu. Oh..it’s so terrible experience..  Untung aja tukang parkirnya baek.. jadi pas aku bilang, “Bang, maaf uang saya dah abis”, sambil senyum and gk lupa pasang wajah innocent. Eh, tuh tukang parkir balas senyum. Hehehe… Hufff…….lega. Gk lagi deh, jangan sampe keulang lagi kejadian kayak gitu. Tobat aku.

shopaholic

Sejak itu aku merasa kapok dan kualat buat belanja tanpa perhitungan..

Tapi ya…yang namanya penyakit bawaan, kadang-kadang masih sering kumat.  Makanya aku emang perlu obat yang ampuh untuk sembuh total dari “holic” ini..

So, are you shopaholic, guys?

Jangan Sakit Jika Anda Miskin

Ponari sekarang udah jadi selebritis papan atas di negeri ini. Stasiun tv mana yang tidak pernah memberitakan Ponari secara eksklusif? Tidak ada yang mau ketinggalan. Ternyata yang ikut berdesak-desakan di halaman rumah Ponari bukan hanya pasien saja. Tapi para kuli tinta juga tidak ingin ketinggalan.
Seandainya anda dihadapkan pada pilihan untuk berobat, anda akan memilih dokter yang menyembuhkan secara medis atau ponari yang konon bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan batu ajaibnya?
Jawabannya pasti beragam. Bagi anda yang berduit pastinya akan lebih memilih berobat ke dokter yang mengobati secara lebih logis daripada harus berdesak-desakan mengantri di depan rumah Ponari. Namun bagi kaum miskin, mereka cenderung memilih berobat ke dukun kecil itu. Realitas menyedihkan yang terjadi dalam masyarakat kita. Itulah fenomena yang terjadi di balik cerita Ponari. Cermin keputusaan rakyat untuk mendapat perawatan dokter ternyata disambut dengan harapan akan batu ajaib milik Ponari.
Masyarakat kita sekarang ini tidak mampu berobat ke rumah sakit karena dirasakan biayanya sangat mahal. Pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah pun belum menjangkau keseluruhan masyarakat, sehingga kemunculan Ponari ini bagaikan angin segar bagi masyakat kelas bawah yang putus asa.

lo-sick_teddy_bear_3-324950

Saya ingin mengkritisi buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk wilayah ASEAN saja, Indonesia menempati urutan teratas. Saya heran kenapa untuk hal-hal buruk, kita seringkali tampil sebagai sang jawara. Ada apa dengan bangsa ini?
Mungkin kita akan dengan bangga mengatakan bahwa dulu Indonesia adalah negara yang lebih maju dibanding Malaysia. Itu dulu. Sekarang malah kita jauh tertinggal dari negara serumpun itu, hampir dalam segala bidang. Terutama dalam bidang kesehatan. Fakta bahwa lebih banyak orang Indonesia yang lebih memilih berobat ke Malaysia, karena mereka masih paranoid dengan dokter-dokter di negerinya sendiri. Kita telah sering dikecewakan oleh dokter hasil dalam negeri. Adanya diagnosa yang salah, malpraktek, dan ”tambahan” obat-obatan yang tidak perlu, adalah kasus yang lazim kita temui. Di benak masyarakat kita, dokter di Indonesia telah mempunyai stereotip ”teledor”.
Masalah kesehatan itu kan gak main-main. Orang berobat ke dokter itu pastinya dengan suatu harapan bisa sembuh, bukan makin dibuat lebih parah kan?
Dari sekian banyak dokter spesialis di Indonesia, saya sangat yakin bahwa hanya segelintir persen yang benar-benar bisa diandalkan. Bobroknya moral dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai sejak awal proses bagaimana seseorang itu bisa masuk di fakultas kedokteran. Biaya kuliahnya aja udah selangit. Konon lagi mereka-mereka yang mengambil jalur ekstensi. Biayanya pasti lebih tinggi. Parahnya lagi bagi mereka yang berduit dan kuliah di kedokteran hanya untuk menjaga gengsi. Motivasi mahasiswanya juga berbeda-beda kan. Bayangin aja jika salah satu bidang paling vital di negeri ini, yaitu bidang kesehatan ditangani oleh lulusan fakultas kedokteran yang bermotivasi untuk mendapat ”duit”.
Pantas saja begitu mahalnya harga kesehatan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka (saya tidak mengatakan semua), membuka praktek dan menetapkan tarif mahal kepada pasiennya agar bisa ”balik modal”. Tanpa peduli apakah pasien itu kaya atau miskin. Ini bukan hanya pendapat saya, tapi ini adalah pendapat publik. Pasien hanya dijadikan komoditas untuk memperkaya dokter.
Oke lah jika sekarang pemerintah mengadakan askeskin dan berobat murah bagi rakyat kurang mampu. Lantas apakah masalahnya selesai? Tidak.
Seringkali kasus yang terjadi di lapangan, adanya sikap diskriminatif terhadap pengguna askeskin. Berharap mendapatkan pelayanan kesehatan, mereka dijadikan pasien kelas dua.
Contoh kasus nih ya, ada pasien kurang mampu yang udah sekarat berobat ke rumah sakit. Apakah ketika pasien itu tiba langsung pelayanan yang didapat? Tidak.
Jika pasien itu kurang mampu, maka harus ada surat keterangan tidak mampu dulu, sayangnya belum semua masyarakat miskin mendapat hak askeskin. Untuk membuat askeskin itu pun tidak gampang. Tau sendirilah bagaimana ribetnya birokrasi di Indonesia. Harus ada syarat ini itulah. Rakyat miskin dibuat makin susah.
Pihak rumah sakit lebih mengutamakan pasien yang ”membayar” daripada pasien yang hanya bermodal askeskin. Biarpun keadaan darurat, tetap saja mereka harus rela berada di ”daftar tunggu” setelah pasien yang membayar.

Jika anda miskin, jagalah kesehatan anda sebaik mungkin
atau
Rakyat Miskin Dilarang Sakit

Sepertinya tanda peringatan seperti itu bisa menjadi cara alternatif bagi rumah sakit-rumah sakit sombong yang kurang bersahabat bagi rakyat miskin. Inilah ironi yang terjadi pada masyarakat kita. Anda kaya? Silahkan sewa dokter terhebat dan dapatkan perawatan terbaik kelas dunia. Tapi jika anda miskin, silahkan tidur kembali diatas kasur reot anda dan bermimpi bahwa akan ada dokter spesialis baik hati yang akan mengobati anda secara gratis.

Friendship… Friendship….

Seberapa besar peran sahabat buat kamu? Kamu mau minta tolong sama siapa pas lagi susah?  Pasti sahabat kan. Kenapa? Karena kamu udah yakin kalo sahabat kamu pasti mau dengan senang hati untuk nolongin kamu. Biarpun di tengah malem buta, di siang bolong, dan di pagi yang juga buta (loh? kok pagi sama malem namanya sama-sama buta? Gak kreatif amat). Dan setiap orang akan memiliki kriteria sendiri untuk bisa men-judge seseorang itu sebagai sahabatnya. Tentunya dengan proses, pengorbanan, serta syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku (ribet banget yah..kok kayak mau ikut lomba).

friendship2

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Bagi aku:

  1. sahabat sejati itu adalah dia yang rela menembus hujan lebat demi bisa membuatmu tertawa ketika kamu menangis.
  2. sahabat sejati itu adalah dia yang ikutan begadang ketika insomnia kamu kumat.
  3. sahabat sejati itu adalah dia yang ikut menangis ketika kamu menangis dan bahagia ketika kamu tersenyum.
  4. sahabat sejati itu adalah dia yang selalu ada di segala kondisi.
  5. sahabat sejati itu adalah dia yang rela kamu repotin.
  6. sahabat sejati itu adalah dia yang tidak pernah jenuh dengan curhat-curhat kamu.
  7. sahabat sejati itu adalah dia yang ada saat kamu merasa sendiri.
  8. sahabat sejati itu adalah dia yang selalu membuat harimu cerah sekalipun hati kamu lagi mendung.
  9. sahabat sejati itu adalah dia yang berhasil membendung airmatamu dengan cerita-cerita lucunya.
  10. sahabat sejati itu adalah dia yang tidak menceritakan aibmu kepada orang lain.
  11. sahabat sejati itu adalah dia yang se-otak dengan kamu.
  12. sahabat sejati itu adalah dia yang mengerti apa yang ingin kamu sampaikan tanpa harus kamu katakan.
  13. sahabat sejati itu adalah dia yang mau menerima sifat kamu apa adanya.
  14. sahabat sejati itu adalah dia yang tidak menempatkanmu sebagai posisi terdakwa meskipun kamu bersalah.
  15. sahabat sejati itu adalah dia yang menolongmu dengan tulus.
  16. sahabat sejati itu adalah dia yang tidak akan tinggal diam ketika ada orang lain yang menyakiti kamu.
  17. sahabat sejati itu adalah dia yang tidak akan pernah meninggalkan kamu sekalipun kamu melakukan kesalahan yang fatal.
  18. sahabat sejati itu adalah dia yang tidak menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru dengan kasihnya dia ingin kamu lebih baik lagi.

 Untuk kalian, sahabat-sahabat aku..

You’re my strength,

you’re my best,

you’re my inspiration..

Without you all, I’m nothing..

Really….