Kadang kita akan merasa puas ketika bisa berdebat dengan orang lain. Tapi ketika berdebat dengan diri sendiri, itu jauh lebih berat. Ketika hati dan emosi berdebat atas suatu hal, bukanlah perkara yang mudah bagi si empunya emosi dan hati. Jiwa yang harus melerai perdebatan itu. Dengan segala kebijaksanaannya. Dengan segala kearifannya. Dan dengan segala pertimbangannya. Berdamai dengan hati bukanlah perkara mudah. Butuh waktu semenit, sehari, sebulan, atau bahkan bertahun-tahun hanya untuk berdamai dengan hati. Sebuah gumpalan daging dalam diri yang mampu mengendalikan seluruh saraf jiwa. Ketika hati dan emosi bertarung, tidak akan ada butir-butir perjanjian yang tertuang dalam sebuah meja bundar. Tidak sekedar siapa yang memenangkan. Hanya kemampuan untuk meredakan kemarahan hati yang tersulut emosi.
Dengarkanlah kata hati
Ya, karena hanya hati yang mengerti akan diri. Terkadang keangkuhan yang melewati dosis tinggi, dapat menulikan akal dari suara hati. Namun hati tidak berhenti berbicara. Dia akan terus mengingatkan. Sampai si pemilik hati terjaga dari keangkuhannya. Jika beruntung, semua bisa diperbaiki. Jika tidak, hanya bisa meratapi ketinggian yang mendadak nanar. Meratapi runtuhan tembok euforia angkuh diri.
Stop bersiteru dengan hati. Di saat emosi meninggi, akan tertampik suatu kebenaran yang tidak terlihat. Melihat yang tidak terlihat. Iya, kemarahan memang bukan suatu hal yang indah. Namun ketika kita berhasil menyingkirkannya, hati akan bercerita, ‘inilah caraku belajar untuk dewasa’. Dengan cara inilah aku bisa menjadi lebih matang. Kedewasaan tidak akan datang tanpa suatu konflik. Dia memberi kita pilihan. Tetap bertahan dalam sifat kekanakan dalam tubuh yang dewasa, atau menjadi lebih arif di usia yang semakin tidak muda.
Dan untuk mereka yang pernah tersakiti, sungguh aku tidak tahu seberapa dalam luka yang kalian miliki. Aku hanya ingin berdamai dengan hatiku sendiri. Dan mencoba berdamai dengan hati-hati yang lain. Untuk sahabat yang sempat tersakiti, ini adalah suatu fase dalam hidup. Lihatlah dari sisi yang aku lihat. Dan aku sungguh lelah bergulat dengan hati.

berdebat dengan diri,, hal yang paling menarik,, sering kulakukan,,
banyak hal yang kutemukan..
percaya kawann,, kadang kita lupa dengan emosi diri,, terlalu sibuk tewarnai oleh lingkungan..
dy butuh kita,, sebagaimana kita butuh dy..